Review Ronggeng Dukuh Paruk — Ahmad Tohari
Aku selalu suka buku yang berlatar belakang Indonesia di masa lalu.
Bibliografi Buku
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 180 alaman
Genre: Fiksi Sejarah
Sinopsis
Semangat Dukuh Paruk kembali menggeliat sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terkahir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil dan bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang. Tanpanya, dukuh itu merasa kehilangan jati diri. Dengan segera Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi. Cantik dan menggoda. Semua ingin pernah bersama ronggeng itu. Dari kaula biasa hingga pejabat-pejabat desa maupun kabupaten.
Namun malapetaka politik tahun 1965 membuat dukuh tersebut hancur, baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohannya, mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncangkan negara ini. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng beserta para penabuh calungnya ditahan. Hanya karena kecantikannyalah Srintil tidak diperlakukan semena-mena oleh para penguasa di penjara itu.
Namun pengalaman pahit sebagai tahanan politik membuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Karena itu setelah bebas, Ia berniat memperbaiki citra dirinya. Ia tak ingin lagi melayani lelaki mana pun. Ia ingin menjadi wanita somahan. Dan ketika Bajus muncul dalam hidupnya, sepercik harapan timbul, harapan yang makin lama makin membungbung. Tapi, ternyata Srintil kembali terempas, kali ini bahkan membuat jiawanya hancur berantakan, tanpa harkat secuil pun...
Novel ini merupakan penyatuan trilogi Ronggeng Dukugh Paruk: Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala, dengan memasukkan kembali bagian-bagian yang tersensor selama 22 tahun.
Alur
Buku ini terdiri dari 3 bagian besar yaitu: Catatan Harian Emak, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala.
Catatan Harian Emak berisi narasi dari Rasus, seorang pemuda desa yang kehilangan orang tuanya akibat petaka keracunan tempe bongkrek. Hidup tanpa emak membuatnya haus akan kehadiran dan kasih sayang emak. Ia mencari-cari sosok emak yang tidak pernah ia rasakan kehadirannya itu melalui sosok Srintil.
Lintang Kemukus Dini Hari berisi tentang narasi dari Srintil mengenai kehidupannya sebagai ronggeng dan keakuan atas dirinya yang mulai ia rasa. Kalian akan merasakan perubahan karakter Srintil yang sangat tajam di sini.
Jantera Bianglala berisi tentang Dukuh Paruk yang hampir mati akibat terlibat dalam malapetaka politik tahun 1965. Dukuh Paruk yang bodoh dan terbuai oleh alunan calung dan seruan cabul pentas ronggeng mulai kehilangan dirinya.
Sesi pergantian setiap bab-nya begitu halus dan tersambung dengan sangat baik. Transisi yang apik oleh Bapak Ahmad Tohari membuatku terpukau dan tidak bisa berhenti merasa penasaran atas apa yang akan terjadi selanjutnya.
Keindahan dan Luka dalam Satu Napas
Buku ini memberikan potret pedesaan Jawa yang disajikan dengan bahasa yang indah, memikat, sekaligus getir. Ceritanya berpusat pada Srintil, seorang gadis desa yang dipercaya telah dirasuki oleh roh indang seorang ronggeng sehingga ia dipilih menjadi ronggeng baru setelah 12 tahun tidak ada lenggok tarian, suara calung atau seruan cabul.
Namun menjadi ronggeng bukan sekedar menari dan menyanyi. Ada harga yang harus dibayar, baik oleh Srintil maupun orang yang mencintainya, termasuk Rasus, sahabat masa kecil yang diam-diam menaruk sosok emak yang tidak pernah ia ingat tapi begitu ia cintai.
Di tengah riuh pentas seni dan kemewahan yang didapakan sebagai ronggeng, tedapat harga yang harus dibayar—Srintil adalah milik semua orang dan tidak sepenuhnya memiliki dirinya sendiri. Kehidupannya diatur adat, tubuhnya dijadikan simbol, dan cintanya menjadi barang mewah yang sulit digapai.
Yang Aku Rasa
Lewat halaman-halamannya, aku diajak menyusuri jalan setapak Dukuh Paruk—aroma tanah basah setelah hujan, suara calung dan gamelan yang mengalun, suara jangkrik di malam hari. Bapak Ahmad Tohari berhasil merangkai kata yang sedemikian indah sehingga kita seakan berada di sana, melihat Srintil menari di bawah cahaya lampu teplok.
Setiap dialog dan deskripsi terasa begitu dekat seolah aku berada di tengah-tengah Dukuh Paruk. Luka yang diwariskan oleh tradisi, tentang mimpi Srintil untuk mendapatkan keakuannya tanpa direnggut oleh Dukuh Paruk, semuanya sempurna.
Tidak berlebihan saat aku bilang aku begitu mencintai buku ini dan aku jadikan sebagai salah satu buku terbaik yang pernah aku baca. Buku yang harus kamu baca sekali seumur hidup.
.
.
Yuk saling terkoneksi!
Tinggalkan jejak berupa komentar di bawah, ya! Aku sangat ingin menambah teman blogger supaya lebih semangat nulis~ð
Terima kasih sudah membaca, sampai bertemu di tulisanku selanjutnya! /á . .á\āļ

Ini buku favoritku sepanjang masa
BalasHapus